INFOTREN.ID — Sebuah video yang menampilkan Atta Halilintar melaksanakan salat di atas trotoar kawasan pertokoan di Tiongkok mendadak ramai diperbincangkan publik. Video tersebut beredar luas di media sosial sejak akhir tahun 2025 dan kembali mencuat di awal 2026, memicu perdebatan soal ibadah di ruang publik, etika konten, dan peran figur publik di era digital.
Dalam rekaman yang diunggah oleh beberapa akun TikTok dan Instagram, Atta terlihat menggelar jaket sebagai alas, menghadap ke arah kaca toko, lalu menunaikan salat di atas trotoar. Aksi itu dilakukan saat ia tengah berlibur bersama keluarga di negara tersebut.
Respons publik pun terbelah.
Sebagian warganet memuji sikap Atta yang dinilai tetap menjaga kewajiban ibadah meski sedang berada di perjalanan. “Orang lagi salat kok dihujat. Niatnya ibadah, biar Allah saja yang menilai,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan konteks dan pilihan lokasi. Kritik muncul terutama karena Atta berstatus musafir, yang dalam ajaran Islam mendapat keringanan untuk menjamak dan meringkas salat.
“Padahal bisa dijamak di hotel. Allah itu mempermudah hamba-Nya, bukan mempersulit,” tulis akun lain di kolom komentar.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Komentar bernada lebih tajam pun bermunculan. Sejumlah warganet menilai aksi tersebut terlalu demonstratif, terlebih karena terekam kamera dan kemudian tersebar luas.
“Berdoalah di tempat tersembunyi. Tapi mungkin dipikir orang lain harus tahu kalau dia paling rajin,” tulis seorang pengguna.
“Kenapa harus direkam? Ibadah atau konten?” tambah warganet lain.
Perdebatan itu tidak hanya menyentuh soal sah atau tidaknya salat, melainkan bergeser ke soal etika menampilkan ibadah di ruang publik, apalagi oleh figur dengan pengaruh besar. Atta Halilintar diketahui memiliki lebih dari 31 juta pengikut, menjadikannya salah satu influencer paling berpengaruh di Indonesia.


