INFOTREN.ID - Lahir dari gembala, tumbuh dalam doa, muncullah gelar doktor. Kisah inspiratif Ahmad Munjizun membawa kita menyelami beratnya langkah, indahnya harapan.

Di Desa Batunyala, Praya Tengah, Lombok Tengah, NTB, seorang bocah kecil tiap pagi menggiring kuda dan sapi, menemani hembusan pagi dan aroma rumput basah.

Dia tak punya kursi ruang kelas besar, yang dia punya hanya kapak semangat dan harapan di balik senja.

Saat itu, bahasa Inggris baginya sebuah pusaran asing, seperti kicau burung di puncak gunung yang tak pernah ia daki.

Namun, setiap suara serangga malam di desa menjadi nyanyian: bahwa dunia lebih dari pasti, dunia menunggu dia untuk berbicara.

iklan sidebar-1

Kisah inspiratif dimulai dari peluh anak gembala dengan langkah pertama menuju panggung akademik di luar negeri.

Asal dari Rumput dan Embun
Di tengah hujan pada pagi yang sunyi, kaki bocah itu menyusuri padang rumput, menggiring kuda demi kuda, menunggu sinar mentari menjemput mimpi.

Rumah dari kayu, jalanan berdebu, suara ayam dan sapi lebih dulu membangunkan dunia daripada dering jam sekolah.

Ia tahu, angin membawa suara kita sendiri, meski dunia tampak jauh, dan bahasa asing, kata tak dimengerti.