INFOTREN.ID - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di akhir pekan ini. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah sebesar 0,34% ke posisi Rp16.335 per dolar AS, level terendah sejak 6 Agustus 2025.

‎Sepanjang minggu ini, rupiah tercatat melemah 1,11%, sekaligus mencatat tren penurunan lima hari berturut-turut.

‎Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat sebesar 0,13% ke level 98,74 pada Kamis sore kemarin (21/08/2025), dan telah mencatat kenaikan mingguan sebesar 0,84%.

‎Kenaikan dolar AS dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang Simposium Jackson Hole yang akan digelar malam ini.

‎Meskipun laporan ketenagakerjaan AS untuk Juli menunjukkan pelemahan, beberapa komentar bernuansa hati-hati dari pejabat The Fed dan data inflasi yang masih tinggi membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengantisipasi arah kebijakan.

iklan sidebar-1

‎Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September telah turun menjadi 75%, dari sebelumnya 92%.

‎Pasar memperkirakan Ketua The Fed Jerome Powell kemungkinan tidak akan memberikan sinyal pemangkasan yang eksplisit, melainkan tetap menunggu perkembangan terbaru dari data inflasi dan ketenagakerjaan.

‎Arah Pernyataan Powell Jadi Penentu

‎Dalam sebuah pernyataan Powell yang dinilai akan menjadi faktor kunci bagi arah pergerakan mata uang global. Jika Powell menyampaikan sikap dovish, dolar AS berpotensi melemah, sehingga memberi peluang bagi penguatan rupiah. Sebaliknya, sikap hawkish Powell bisa memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.