INFOTREN.ID - Nilai tukar rupiah tertekan sejak akhir pekan kemarin Jumat (01/08/2025), menembus level Rp 16.500 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi sentimen global, termasuk kebijakan tarif dari Amerika Serikat dan melemahnya kinerja sektor manufaktur di dalam negeri.

‎Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 57 poin atau sekitar 0,35 persen ke posisi Rp 16.513 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 16.456 per dolar AS.

‎Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, beberapa faktor eksternal menjadi penekan utama rupiah. Salah satunya adalah keputusan Presiden AS Donald Trump yang pada Kamis malam menandatangani kebijakan tarif baru terhadap sejumlah negara mitra dagang utama. Tarif tersebut berkisar antara 10 hingga 50 persen, meski AS telah menjalin kesepakatan dagang dengan beberapa negara seperti Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.

‎Sementara itu, Kanada dikenakan tarif sebesar 35 persen yang mulai berlaku per 1 Agustus 2025. Untuk Meksiko, pemerintahan Trump memperpanjang batas waktu tarif selama 90 hari guna membuka ruang negosiasi lebih lanjut.

‎AS juga mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih berat terhadap minyak asal Rusia. Pemerintah Washington mempertimbangkan tarif hingga 100 persen terhadap pembeli utama minyak Rusia, yaitu China dan India. Selain itu, India dikenai tarif tambahan sebesar 25 persen terkait kedekatannya dengan Moskow.

iklan sidebar-1

‎Dari sisi data ekonomi, pelaku pasar menanti laporan ketenagakerjaan AS untuk Juli. Ekonomi AS diperkirakan hanya menciptakan 110 ribu lapangan kerja, lebih rendah dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran juga diperkirakan naik menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 4,1 persen.

‎Selain laporan Nonfarm Payroll (NFP), investor juga mencermati rilis data PMI Manufaktur ISM dan indeks Sentimen Konsumen dari Universitas Michigan (UoM) yang akan turut memengaruhi pergerakan pasar.

‎Di sisi domestik, rupiah juga terdampak oleh kembali melemahnya sektor manufaktur Indonesia yang menunjukkan kontraksi, mencerminkan tekanan lanjutan terhadap perekonomian nasional.(*)