INFOTREN.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mendapat dukungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk rencana perdamaian AS yang mencakup pembentukan negara Palestina masa depan.
Namun, realitas di Tepi Barat jauh dari ideal ekonomi lokal tengah berada dalam jurang krisis yang semakin dalam.
Dilansir dari Reuter, Selasa, 30/9/2025, koridor transportasi yang penting bagi aktivitas ekonomi telah terpecah oleh jaringan pemukiman Israel.
Akses dan konektivitas makin sulit, memperlambat arus barang dan layanan.
Akibatnya, pegawai lembaga pemerintah Palestina sering kali tidak menerima gaji karena Israel memblokir transfer pendapatan pajak. Tanpa sumber dana internal dan dengan beban luar, layanan dasar makin rapuh.
Remitansi Hilang: Pilar Ekonomi Goncang
Remitansi dari warga Palestina yang bekerja di Israel yang dulu menjadi tumpuan ekonomi lokal, kini nyaris lenyap seiring eskalasi konflik di Gaza.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Keamanan dan izin kerja dibatasi, meruntuhkan aliran dana penting.
Seorang warga, Rami Harfoosh, mengatakan, “Kami berpikir berkali-kali sebelum menghabiskan satu shekel.”
Ia kehilangan pendapatan bulanan 1.700 Dollar Amerika Serikat dari kerja di Israel, dan kini bahkan tak mampu membeli alat bantu dengar pengganti untuk anaknya.


