INFOTREN.ID - Nama Noe Letto selama ini lekat dengan musik yang puitis, reflektif, dan penuh makna. Namun kini, publik dibuat terkejut sekaligus penasaran. Vokalis band Letto itu resmi melangkah ke ruang kebijakan strategis sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Kementerian Pertahanan RI. Sebuah perjalanan lintas disiplin yang menunjukkan bahwa musik, ilmu pengetahuan, dan pengabdian negara dapat bertemu dalam satu sosok.
Latar Belakang: Anak Budayawan, Tumbuh dalam Tradisi Intelektual
Noe Letto memiliki nama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh. Ia dikenal sebagai putra sulung budayawan dan intelektual publik Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Lingkungan keluarga yang akrab dengan diskusi budaya, nilai kemanusiaan, dan pemikiran kritis membentuk karakter Noe sejak dini.
Dilansir dari sejumlah media nasional (18/1), Cak Nun pernah menyampaikan bahwa relasinya dengan anak-anak dibangun secara egaliter. “Hubungan kami lebih sebagai teman,” ungkapnya dalam sebuah kesempatan. Pola asuh ini diyakini berpengaruh besar terhadap cara berpikir Noe yang mandiri dan terbuka.
Pendidikan: Menimba Ilmu hingga Kanada
Tak hanya menonjol di bidang seni, Noe juga memiliki rekam jejak akademik yang kuat. Ia menempuh pendidikan tinggi di University of Alberta, Kanada, dengan mengambil jurusan Matematika dan Fisika, dan meraih gelar Bachelor of Science.
Pendidikan sains tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk cara berpikir sistematis, analitis, dan strategis. Bekal inilah yang kemudian menjelaskan mengapa Noe dinilai relevan untuk terlibat dalam kajian geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi nasional.
Karier Musik: Letto dan Jejak Fenomenal
Karier Noe melejit bersama band Letto, yang berdiri pada 2004. Album debut Truth, Cry, and Lie sukses besar dan mengantarkan Letto ke jajaran band papan atas Indonesia. Lagu-lagu seperti Ruang Rindu, Sandaran Hati, dan Sebelum Cahaya menjadi hits lintas generasi.


