INFOTREN.ID - Fernando Martín Carreras selama bertahun-tahun dikenal di Spanyol sebagai sosok pekerja sunyi dalam dunia sepak bola. Namanya mungkin tak sepopuler bintang LaLiga, tetapi di lingkaran sepak bola Valencia, ia dihormati sebagai pelatih yang membangun pemain dari bawah, dengan disiplin, kesabaran, dan pendekatan manusiawi.
Lahir dan tumbuh dalam kultur sepak bola Spanyol yang keras namun penuh tradisi, Carreras meniti karier sebagai pesepak bola profesional sebelum akhirnya memilih jalur kepelatihan. Ia pernah memperkuat sejumlah klub di Spanyol, termasuk Cultural Leonesa dan Cartagena, sebelum menutup karier bermainnya dan beralih ke dunia kepelatihan.
Di Valencia CF, Carreras dipercaya menangani tim Valencia Femenino B, sebuah posisi yang menuntut lebih dari sekadar taktik. Ia bertanggung jawab membina pemain muda perempuan, membentuk karakter, dan menjembatani mimpi menuju level profesional. Di mata kolega dan pemainnya, ia dikenal tenang, rendah hati, dan sangat protektif terhadap timnya.
Namun, di balik identitasnya sebagai pelatih, Fernando Martín Carreras adalah seorang ayah keluarga. Ia dikenal sangat dekat dengan anak-anaknya dan menjadikan waktu bersama keluarga sebagai prioritas, terutama di sela-sela jadwal sepak bola yang padat. Liburan akhir tahun 2025 pun dimanfaatkan sebagai momen kebersamaan, sebuah perjalanan keluarga yang diniatkan untuk beristirahat dan merayakan Natal.
Perjalanan itulah yang kemudian berubah menjadi peristiwa paling kelam dalam hidup keluarganya.
Pada akhir Desember 2025, Carreras bersama keluarganya berada di perairan sekitar Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Kapal wisata yang mereka tumpangi, Pinisi Putri Sakinah, mengalami insiden di tengah kondisi laut yang tidak bersahabat. Kapal dilaporkan mengalami gangguan mesin sebelum akhirnya diterjang gelombang dan tenggelam.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Sebagian penumpang berhasil diselamatkan. Namun Fernando Martín Carreras dan tiga anaknya dinyatakan hilang dalam insiden tersebut. Hingga operasi pencarian dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan, nama Carreras tak lagi disebut dalam konteks sepak bola, melainkan dalam laporan tragedi kemanusiaan.
Kabar itu mengguncang Valencia.
Valencia CF merilis pernyataan duka yang menyebut kehilangan ini sebagai pukulan emosional bagi seluruh keluarga besar klub. Dunia sepak bola Spanyol pun merespons dengan kesedihan mendalam. Carreras bukan hanya pelatih, tetapi bagian dari ekosistem yang membentuk masa depan sepak bola perempuan di Spanyol.


