INFOTREN.ID - Muktamar PPP (Partai Persatuan Pembanguna) di Ancol yang seharusnya berlangsung hingga 29 September berakhir lebih cepat, memunculkan suasana tegang di tengah forum.

Dua kubu saling klaim sebagai pemenang: kubu Mardiono menyebut aklamasi sah, sementara kubu lain menegaskan bahwa pemilihan belum final.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kepentingan politik dan dinamika internal partai bisa memicu konflik yang memanas.

Kader dan pengamat pun menyaksikan momen ini dengan cemas, menunggu keputusan resmi yang menegaskan legitimasi kepemimpinan.

Klaim Aklamasi vs Bantahan Resmi

iklan sidebar-1

dilansir dari Jawa Pos yang diakses pada 28/9/2025, Wakil Ketua Umum PPP Amir Uskara menyatakan, “Karena kondisi tidak kondusif, maka kita aklamasi untuk Mardiono.”

Pernyataan ini memicu kontroversi karena dinilai mempercepat proses pemilihan di tengah ketidakpastian forum.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Pertimbangan PPP Romahurmuziy menegaskan bahwa klaim tersebut “palsu, klaim sepihak, dan upaya memecah belah partai.”

Dengan demikian, perbedaan narasi antara dua kubu memperkuat dualisme internal yang berpotensi merusak kepercayaan kader maupun publik terhadap proses partai.