INFOTREN.ID - Pertarungan memperebutkan Balai Kota New York telah naik kelas, berubah menjadi konflik terbuka antara kekuatan federal dan ambisi progresif lokal. Presiden Donald Trump tidak main-main. 

Ia telah menetapkan calon Wali Kota Demokrat, Zohran Mamdani, sebagai target utama, melabelinya sebagai "komunis gila" dan mengancam akan menggembok aliran dana federal miliaran dolar jika ia menang.

Trump menggunakan label "komunis gila" sebagai senjata pamungkas untuk menakut-nakuti basis konservatifnya di seluruh Amerika.

Mamdani, dengan platform sosialis demokratnya—meminta bus gratis, penitipan anak universal, dan kontrol sewa yang radikal dianggap oleh Trump sebagai wujud nyata dari "kiri ekstrem" yang berusaha menghancurkan kapitalisme Amerika.

Dengan menargetkan Mamdani, Trump tidak hanya berusaha memengaruhi Pilwalkot, tetapi juga mengirimkan sinyal bahaya kepada seluruh partai Republik: ini adalah masa depan yang akan terjadi jika Demokrat dibiarkan berkuasa.

iklan sidebar-1

Faktor identitas memperburuk konflik. Mamdani berpeluang menjadi Wali Kota Muslim pertama New York City. Dalam retorika Trump yang sering kontroversial terkait imigrasi dan Islam, identitas Mamdani menjadi sasaran empuk. 

Serangan personal Trump, bahkan ancaman terselubung untuk mempertanyakan status kewarganegaraan Mamdani, menunjukkan bahwa ini adalah tentang politik identitas yang lebih besar. 

Bagi Trump, Mamdani bukan hanya lawan politik, tapi representasi dari "lain" (the other) yang menurutnya mengancam tatanan Amerika.

Pemicu langsung ancaman pemotongan dana adalah penolakan Mamdani terhadap kekuasaan federal.