INFOTREN.ID - Konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina, khususnya di Jalur Gaza, telah dicatat sebagai salah satu konflik paling mematikan bagi para jurnalis dalam sejarah modern.
Para pekerja media, yang tugasnya adalah menjadi mata dan telinga dunia, justru menjadi sasaran dalam keganasan perang. Komunitas jurnalis di wilayah tersebut telah membayar harga yang sangat mahal, dengan jumlah korban tewas yang mencapai rekor tertinggi.
Menurut data dari organisasi perlindungan jurnalis internasional, puluhan hingga ratusan jurnalis telah gugur sejak eskalasi besar-besaran konflik dimulai pada Oktober 2023. Mayoritas dari mereka adalah jurnalis Palestina yang meliput di Gaza.
Kematian tragis mereka bukan hanya kerugian bagi profesi jurnalisme, tetapi juga pembungkaman terhadap suara yang berusaha mengungkap kebenaran di tengah reruntuhan.
Korban di Tengah Laporan Lapangan
1. Shireen Abu Akleh (Al Jazeera)
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Jurnalis veteran Al Jazeera yang berkewarganegaraan Palestina-Amerika ini tewas ditembak pada Mei 2022 saat meliput serangan militer Israel di Jenin, Tepi Barat. Kematiannya memicu kemarahan global.
Meskipun mengenakan rompi pers dan helm, ia tertembak di kepala. Otoritas Palestina dan Al Jazeera menuduh pasukan Israel sengaja menargetkannya, meskipun Israel kemudian menyatakan "kemungkinan besar" tembakan tentaranya yang menewaskan Abu Akleh, namun membantah penargetan yang disengaja.
2. Anas Al-Sharif (Al Jazeera)


