INFOTREN.ID - Bayangkan pagi cerah di Kota Serang, Banten, di mana deretan mobil mewah Pajero dan Fortuner berbaris rapi di depan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Izzah.
Anak-anak berpakaian seragam rapi turun dari kendaraan ber-AC, diantar sopir pribadi, siap memulai hari belajar di lingkungan elit.
Namun, di tengah kemewahan itu, muncul piring nasi kotak sederhana atau ompreng dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG), program andalan pemerintah yang seharusnya menjangkau yang paling membutuhkan.
Ironi ini bukan sekadar cerita viral di media sosial, melainkan cermin kesenjangan sosial yang menggerogoti fondasi pendidikan Indonesia.
Seperti bayangan panjang di bawah sinar matahari, kasus ini menggugat: apakah kebijakan nasional benar-benar merangkul semua anak, atau justru memperlebar jurang antara yang kaya dan miskin?
Kisah ini, yang meledak’ (viral-red) pada akhir September 2025, mengajak kita merenung dan bertindak untuk masa depan yang lebih adil.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Viralnya Penolakan di SDIT Al-Izzah
Di balik tembok sekolah swasta bergengsi itu, program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 2025 bertujuan menyediakan makanan bergizi gratis bagi siswa SD untuk mengatasi stunting dan ketimpangan gizi.
Namun, di SDIT Al-Izzah, program ini justru memicu gelombang penolakan dari wali murid. Pada 29 September 2025, puluhan orang tua menggelar audiensi dengan Pemerintah Kota Serang, menuntut penghentian distribusi makanan tersebut.


