INFOTREN.ID - Pernahkah Anda merasa pemerintah seperti berjalan di dunianya sendiri, jauh dari realita yang kita hadapi sehari-hari? Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto merasakan hal yang sama. Sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional Republik Indonesia (DPN RI), ia melihat jurang pemisah antara pemerintah dan masyarakat semakin lebar.

"Yang terjadi adalah saling curiga, saling curiga, saling curiga terus sampai pada posisi prejudis," ujar Noe, menggambarkan kondisi yang memprihatinkan ini dilansir dari Kompas.com (24/1).

Satu Tahun: Waktu yang Singkat atau Cukup?

Noe Letto memberikan ultimatum yang cukup mengejutkan. Ia hanya memberi waktu satu tahun untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar berguna bagi negara. Jika tidak, ia tak segan untuk mengundurkan diri.

"Ya kalau tidak didengarkan, ya ya ya piye? Tapi, kalau ternyata saya lama di sana, kasih rekomendasi dan ternyata enggak kepakai-kepakai juga, ya tinggal keluar, tinggal resign, gampang saja. Simpel saja," tegasnya.

iklan sidebar-1

Lebih Pilih Jadi Tenaga Ahli, Mengapa?

Banyak yang bertanya-tanya, mengapa Noe Letto lebih memilih posisi sebagai tenaga ahli dibandingkan masuk ke pemerintahan melalui jalur partai politik? Jawabannya cukup menohok.

Menurutnya, masuk pemerintahan lewat partai politik bisa membuat seseorang terikat pada kepentingan partai. Sementara itu, tenaga ahli memiliki kebebasan untuk berpikir lebih objektif dan berorientasi pada kepentingan negara.

"Kenapa posisi TA (Tenaga Ahli-read) tepat? Itu jauh lebih enak daripada posisi masuk lewat partai. Karena kamu nanti patuh sama partai. Kalau posisi TA patuh sama siapa? Posisi TA patuh pada kenyataan, patuh pada objective reality, patuh kepada setianya kepada negara. Very, very simple," jelasnya.