INFOTREN.ID - Pernahkah Anda membayangkan, di tengah gembar-gembor bantuan pendidikan, seorang anak justru merasa begitu putus asa hingga memilih jalan pintas yang tragis? Inilah kisah pilu seorang anak SD bunuh diri yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang akan membuat Anda merenung tentang arti keadilan dan kepedulian.

Siswa Berprestasi yang Malang

YBR (10), seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, ditemukan tak bernyawa di kebun cengkeh milik neneknya. Ironisnya, kejadian ini terjadi di saat dana Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp 450 ribu sudah masuk ke rekeningnya.

Menurut Kepala UPTD SD Negeri Rj, Maria Ngene, YBR dikenal sebagai siswa yang baik dan berprestasi. "Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan," ujarnya dilansir dari Kompas.com (5/2). Bahkan, Bupati Ngada Raymundus Bena menyebut YBR masuk dalam jajaran 10 besar di kelasnya.

Dana PIP di Depan Mata, Tapi Terganjal Birokrasi

iklan sidebar-1

Namun, di balik keceriaannya, YBR menyimpan beban berat. Ia hidup dalam keterbatasan ekonomi bersama neneknya, WN (80). Bantuan pendidikan dari pemerintah pun sulit diakses karena masalah Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Maria menjelaskan bahwa sejak kelas I hingga III, YBR tidak menerima bantuan karena ibunya, MGT (47), masih tercatat sebagai penduduk Kabupaten Nagekeo. Tahun ini, saat dana PIP akhirnya cair, pihak bank tidak bisa memproses pencairan karena KTP ibunya berasal dari luar daerah.

Jeritan Hati yang Tak Terdengar

Bupati Ngada Raymundus Bena menduga rumitnya administrasi ini menjadi salah satu pemicu tragedi. "Ketika gurunya menyampaikan ke ibunya 'nanti ke kabupaten untuk ngurus PIP', anak ini sampaikan ke ibunya. Sampai di atas (bank), dilihat datanya tapi karena masih terdaftar di kabupaten sebelah, akhirnya di-pending. Ini diduga menjadi akumulasi lain," tuturnya.