INFOTREN.ID - Pernahkah Anda membayangkan seorang anak memilih mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah buku? Kisah tragis yang menimpa seorang siswa SD bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini akan membuat Anda merenung. Bukan sekadar soal buku yang tak terbeli, ada masalah yang jauh lebih kompleks dan menyayat hati di baliknya!

Bantahan Bupati: Bukan Hanya Soal Buku!

Bupati Ngada, Raymundus Bena, dengan tegas membantah anggapan bahwa YBS (10), siswa SD yang ditemukan meninggal, hanya karena tidak mampu membeli buku dan pulpen. Menurutnya, masalah ini jauh lebih dalam, melibatkan aspek ekonomi hingga psikologi sosial.

pip-rp-450-ribu-tak-selamatkan-nyawa-siswa-sd-di-ngada-ntt-ada-yang-salah-dengan-sistem" class="baca-juga-card">
Abu Bakar Boli Regional

Ngilu! Dana PIP Rp 450 Ribu Tak Selamatkan Nyawa Siswa SD di Ngada NTT: Ada yang Salah dengan Sistem?

"Saya rasa mungkin bukan berarti kesimpulan sementara yang diambil media ini terlalu dini. Kalau saya melihat masalah ini cukup kompleks," ujar Raymundus dilansir dari Kompas.com (5/2).

Siswa Berprestasi dengan Mimpi yang Kandas?

iklan sidebar-1

Siapa sangka, di balik tragedi ini, YBS adalah seorang siswa berprestasi. Bupati Raymundus mengungkapkan bahwa YBS selalu masuk 10 besar di sekolahnya. Namun, impiannya harus kandas di tengah jalan.

Ironi Bantuan Pemerintah: Tertunda Karena Birokrasi!

Keluarga YBS memang tergolong tidak mampu. Ironisnya, Pemkab Ngada telah mengalokasikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) untuknya. Namun, pencairan bantuan tersebut tertunda karena masalah sinkronisasi data.

"Ketika gurunya menyampaikan ke ibunya 'nanti ke kabupaten untuk ngurus PIP', anak ini sampaikan ke ibunya. Naiklah ke kabupaten, ke BRI. Sampai di atas, dilihat datanya tapi karena masih terdaftar di kabupaten sebelah, akhirnya di-pending (pencairan PIP)," kata Bena.