INFOTREN.ID - Pernahkah Anda membayangkan, di tengah gemerlap kota metropolitan, ada kehidupan yang berdenyut di kolong jembatan? Di sanalah, di bawah Jembatan Ciliwung Kalibata, sebuah "dapur" unik beroperasi. Bukan restoran mewah, melainkan tempat pengolahan ikan sapu-sapu yang kontroversial.

Dari Sungai Tercemar ke Meja Makan?

Ikan sapu-sapu, yang selama ini dikenal sebagai hama pengganggu ekosistem sungai, ternyata menjadi sumber penghidupan bagi sebagian warga Jakarta. Di atas rakit-rakit plastik yang mengapung di Sungai Ciliwung, mereka menyulap ikan "sampah" ini menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

"Sekelompok warga sibuk mengolah ikan sapu-sapu, jenis ikan yang selama ini kerap dicap sebagai hama, tetapi di lokasi ini justru menjadi sumber penghidupan," tulis Kompas.com (23/1) menggambarkan realitas yang ada di kolong jembatan.

Proses Ekstrem yang Bikin Merinding

iklan sidebar-1

Proses pengolahan ikan sapu-sapu ini bisa dibilang ekstrem. Tanpa alat pelindung, tangan-tangan terampil menyayat kulit keras ikan, memisahkan daging dari kulitnya. Kulitnya dibuang begitu saja ke sungai, sementara dagingnya dikumpulkan untuk dijual.

"Seluruh proses pemilahan dan pembersihan dilakukan langsung di atas rakit. Kulit ikan dibuang begitu saja ke aliran sungai, sementara dagingnya dimasukkan ke kantong-kantong plastik berwarna merah," demikian deskripsi yang menggambarkan kondisi memprihatinkan tersebut.

Telur Ikan Jadi Rebutan Pemancing

Tak hanya dagingnya, telur ikan sapu-sapu pun laku dijual sebagai umpan pancing. "Kalau buat umpan mancing, per kilo Rp 20.000. Kalau yang dari lubang, satuannya bisa seribu telur itu Rp 5.000," ungkap Ali, salah seorang pencari ikan.