INFOTREN.ID - Kota Malang kembali dihebohkan dengan kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa seorang tokoh agama terkemuka, mantan dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Imam Muslimin alias Yai Mim. Pada tanggal 8 Januari 2026, Yai Mim terlihat mendatangi Polresta Malang dengan menggunakan kursi roda untuk melaporkan kejadian yang menimpanya. Kedatangannya sontak menarik perhatian publik dan media.
Laporan ke Polisi: Luka Lebam di Sekujur Tubuh
Dengan didampingi kuasa hukumnya, Yai Mim melaporkan bahwa dirinya menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah orang. "Yai Mim datang ke Polresta Malang dengan kursi roda untuk melaporkan kasus pengeroyokan yang dialaminya," dilansir dari Kompas.com pada 8 Januari 2026. Menurut laporan yang dibuat, Yai Mim mengalami luka lebam di sekujur tubuh akibat kejadian tersebut.
Sahara Membantah: Klaim Pengeroyokan Tidak Benar
Namun, pernyataan berbeda datang dari pihak Sahara, yang melalui kuasa hukumnya membantah keras tuduhan pengeroyokan tersebut. Kuasa hukum Sahara menyatakan bahwa kliennya tidak terlibat dalam aksi kekerasan terhadap Yai Mim. Mereka bahkan menyebut bahwa klaim pengeroyokan tersebut tidak benar dan merupakan upaya untuk mencemarkan nama baik Sahara.
Zakki menyebut bahwa pengeroyokan yang disampaikan oleh Yai Mim hanya tipu daya yang sengaja dikarang. Termasuk, yang menyebut bahwa dua karyawan Sahara membawa senjata tajam saat melakukan pengeroyokan. “Itu semua penuh dengan tipu muslihat Muslimin. Semua tidak benar, termasuk yang membawa senjata tajam dan dikeroyok ratusan orang,” kata Zakki dilansir dari Kompas.com, Kamis (8/1/2025).
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!

Kuasa Hukum Sahara, Moh Zakki saat ditemui awakmedia di Polresta Malang Kota pada Kamis (8/1/2026). (KOMPAS.com/ Putu Ayu Pratama Sugiyo).
Konflik Memanas: Dua Kubu Saling Klaim Kebenaran
Dengan adanya laporan dari Yai Mim dan bantahan dari Sahara, kasus ini semakin memanas. Kedua belah pihak bersikukuh dengan pernyataan masing-masing, membuat publik bertanya-tanya mengenai kebenaran yang sebenarnya. Konflik ini pun berpotensi berlanjut ke ranah hukum, di mana kedua belah pihak siap untuk membuktikan kebenaran klaim mereka.


