INFOTREN.ID — Bandara Ngurah Rai seharusnya menjadi halaman depan keramahan Bali. Di titik itulah wisatawan, baik lokal maupun internasional, mendapat kesan pertama tentang sebuah pulau yang bermimpi naik kelas menjadi quality tourism. Namun halaman depan itu masih sering diwarnai praktik lama: tawar-menawar harga transport yang bergerak liar tanpa standar jelas.
Keluhan tersebut baru-baru ini meledak lewat sebuah video yang direkam artis Indonesia Nova Eliza sesaat setelah ia keluar mengambil bagasi. Nova membuka ceritanya dengan nada hati-hati,
“Disclaimer dulu, video ini dibikin bukan untuk menjelekan siapapun ataupun menyudutkan siapapun. Pure video ini aku bikin karena aku ingin melihat perubahan yang lebih baik dari sistem transportasi di Ngurah Rai.”
Ia sudah memesan taksi online dengan nomor kode siap di lantai dua area parkir. Petugas bandara mengatakan waktu tunggu mencapai satu jam. Bagi Nova, menunggu selama itu terasa terlalu lama, sehingga ia mencari alternatif lain di sekitar terminal.
Di sanalah kejutan datang. Seorang pria sopan menawarkan mengantar ke Berawa dan meminta Rp 400.000, padahal aplikasi menunjukkan biaya sekitar Rp 200.000. Tawaran berikutnya semakin tinggi: Rp 600.000, lalu melonjak ke Rp 700.000 hingga Rp 800.000. Alasannya selalu sama, macet di luar bandara.
Nova akhirnya memilih taksi berwarna biru berlogo resmi yang datang dalam tujuh menit. Saat mobil melaju keluar bandara, jalan memang padat, tetapi tidak macet total seperti klaim para penawar sebelumnya. Ia membayar hanya sedikit di atas Rp 200.000, sudah termasuk parkir bandara untuk dua jam.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Video itu menjadi cermin yang tidak nyaman. Jika seorang artis yang jelas orang lokal saja dipukul harga setinggi itu, bagaimana nasib penumpang asing yang lelah setelah terbang belasan jam, tidak paham Bahasa Indonesia, dan tidak tahu berapa harga wajar menuju Berawa atau Canggu?
Gregorius Adrianus Sinantong, pemerhati pariwisata Bali dan Nusa Tenggara, menilai pengalaman ini menunjukkan masalah lebih dalam. Menurutnya, pemerintah Bali terlalu percaya pada grafik jumlah kunjungan dan lupa menata detail layanan. Bandara adalah garda terdepan. Tanpa protokol pickup yang tegas dan transparansi Ngurah Rai airport transport pricing, wajah Bali akan terus dicurigai sebagai ruang harga suka-suka.
"Industri transportasi resmi sebenarnya sudah memiliki mekanisme. Platform berizin menghitung jarak, memasukkan biaya parkir, dan menetapkan harga sebelum perjalanan dimulai. Praktik negosiasi di area parkir bandara tidak menyelesaikan kemacetan. Ia hanya memanfaatkan kebingungan dan kelelahan penumpang." Ujar Gregorius


