INFOTREN.ID - Pernahkah Anda bertanya, apa makna sebuah data? Bagi ratusan guru honorer di Kabupaten Gowa, data bukan sekadar deretan angka dalam sistem birokrasi. Ia adalah hak, pengakuan, sekaligus penentu masa depan. Namun harapan untuk diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang telah lama diperjuangkan, mendadak pupus bak ilusi. Data yang seharusnya menjadi jembatan pengabdian justru berubah menjadi tembok penghalang, menyisakan keharuan dan tanda tanya besar.

480 Guru Honorer Gagal Ikut Seleksi PPPK

Sebanyak 480 guru honorer jenjang SD dan SMP di Kabupaten Gowa dipastikan gagal mengikuti seleksi PPPK Paruh Waktu. Mereka tidak dapat melanjutkan proses pendaftaran lantaran akun masing-masing tidak bisa diakses saat seleksi dibuka.

Pendamping Guru Honorer Gowa, Ari Paletteri, menjelaskan kendala teknis ini secara gamblang, “Ini teman-teman yang bermasalah sekarang mengakses akunnya untuk daftar PPPK. Tidak bisa diakses melalui akun. Kan ada akunnya itu, masing-masing honorer itu. Akun untuk mengakses ke Kementerian, KemenPAN, ke BKN. Itu dia sudah tidak bisa akses pada saat itu,” kata Ari, dilansir dari DetikSulsel diakses (8/1).

Ari menegaskan, para guru sebelumnya telah mengikuti seluruh tahapan pendataan non-ASN sejak 2022. Namun saat momen krusial pendaftaran PPPK, akses akun mereka mendadak tertutup, menimbulkan kebingungan dan kekecewaan.

iklan sidebar-1

Tangis Guru dan Sindiran Gaji Sopir MBG

Di tengah kekecewaan, suasana emosional tak terhindarkan. Sejumlah guru honorer menumpahkan perasaan mereka, salah satunya dengan membandingkan kondisi kesejahteraan.

“Di sini saya luapkan saja. Ternyata gaji sopir MBG jauh lebih layak dibandingkan kami yang mencerdaskan anak bangsa,” ungkap seorang guru honorer dengan suara bergetar.”

Pernyataan tersebut mencerminkan rasa kelelahan dan ketidakadilan yang telah lama dirasakan para pendidik honorer.