Infotren - Industri tambang nikel di Indonesia dikuasai oleh sejumlah konglomerat ternama dengan kekuatan modal besar. Kekayaan alam Sulawesi, Halmahera, dan Papua menjadi ladang emas mereka untuk mendulang keuntungan global.
Salah satu nama paling menonjol adalah Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources yang memiliki kepemilikan di sektor nikel lewat entitas afiliasi. Ia dikenal sebagai orang terkaya di Indonesia berkat ekspansi agresif di sektor energi dan pertambangan.
Luhut Binsar Pandjaitan juga disebut memiliki kepentingan bisnis dalam tambang nikel melalui PT Toba Bara Sejahtra. Perusahaan tersebut terlibat dalam proyek hilirisasi dan pembangunan smelter di beberapa wilayah.
Konglomerat Prajogo Pangestu pun ikut masuk lewat PT Barito Pacific yang menjalin kerja sama dengan perusahaan tambang nikel dan hilirisasi industri baterai. Diversifikasi bisnisnya dari petrokimia ke nikel membuatnya semakin diperhitungkan.
Antam (Aneka Tambang) sebagai BUMN pun tak lepas dari dominasi elite bisnis yang bermain di belakang layar. Kerja sama antara Antam dengan perusahaan swasta sering kali membuka peluang bagi pemilik modal besar untuk ikut mengatur arah kebijakan.
Tokoh lain seperti Garibaldi Thohir dan keluarga Bakrie juga memiliki jejak investasi di sektor tambang nikel. Kendati tak sebesar pemain utama, mereka tetap aktif menanam modal dalam proyek-proyek strategis nikel nasional.
Penguasaan tambang nikel ini menunjukkan bahwa sumber daya alam Indonesia sebagian besar dikendalikan oleh segelintir elite ekonomi. Transparansi dan regulasi yang ketat menjadi kunci agar kekayaan mineral ini benar-benar memberi manfaat luas bagi rakyat.


