INFOTREN.ID - Ancaman itu tidak datang dengan suara gemuruh atau gelombang besar yang tiba-tiba. Ia hadir perlahan, nyaris tak terlihat, tetapi dampaknya nyata dan kian mendesak. Kenaikan permukaan air laut, dikombinasikan dengan penurunan muka tanah, kini menjadi salah satu risiko lingkungan paling serius bagi wilayah pesisir Indonesia.
Peringatan ini kembali ditegaskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam catatan jangka panjangnya, BMKG menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: rata-rata kenaikan muka air laut global meningkat signifikan, dari sekitar 1,4 milimeter per tahun pada periode 1901–1990 menjadi 3,6 milimeter per tahun pada 2006–2015. Angka itu mungkin terdengar kecil, tetapi akumulasinya bekerja tanpa jeda.
“Tidak selalu terlihat, tapi dampaknya nyata, terutama untuk wilayah pesisir,” tulis BMKG melalui kanal resminya. Dampak yang dimaksud bukan sekadar genangan sesaat, melainkan ancaman sistemik terhadap rumah, mata pencaharian, dan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Pesisir yang Perlahan Hilang
Beberapa wilayah telah merasakan dampak paling keras. Sayung, Demak, di Jawa Tengah, menjadi contoh nyata bagaimana daratan bisa hilang bukan dalam hitungan abad, melainkan puluhan tahun. Ribuan hektar lahan di kawasan ini dilaporkan tenggelam akibat kombinasi kenaikan air laut dan penurunan tanah yang mencapai 10 hingga 15 sentimeter per tahun.
Kondisi serupa terlihat di Jakarta Utara. Di sejumlah titik, laju penurunan tanah bahkan disebut melebihi 10 sentimeter per tahun, menjadikannya salah satu wilayah dengan tingkat amblesan tanah tertinggi di dunia. Banjir rob yang kian sering bukan lagi peristiwa musiman, melainkan bagian dari keseharian warga pesisir.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Dampaknya menjalar ke berbagai sektor. Rumah dan bangunan terancam rusak atau hilang, lahan pertanian dan tambak menyusut, dan pada akhirnya memicu perpindahan penduduk. Di laut, ekosistem ikut tertekan. Pemutihan terumbu karang dan gangguan rantai makanan menjadi sinyal bahwa krisis ini tidak berhenti di darat.

Peringatan dari Dunia Riset
Ancaman ini diperkuat oleh temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menurut periset Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Joko Widodo, penurunan tanah terjadi perlahan akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, sifat tanah yang lunak, pemadatan sedimen alami, serta beban bangunan di atasnya.


