Infotren.id - Film "Sore: Istri dari Masa Depan" garapan Yandy Laurens bukan sekadar kisah cinta lintas waktu yang manis. Di balik visual sinematik dan dialog penuh emosi, tersimpan konsep time travel yang rumit, multiverse yang bercabang, serta pesan filosofis tentang pengorbanan dan penerimaan. Tak heran bila banyak penonton yang merasa bingung setelah menontonnya, sebab alur film ini tidak bergerak linear, melainkan bercabang seperti ranting waktu yang retak karena campur tangan manusia terhadap takdir.
Di permukaan, "Sore" bercerita tentang seorang perempuan bernama Sore yang mengaku berasal dari masa depan dan muncul di kehidupan seorang fotografer bernama Joe. Mereka jatuh cinta, menikah, lalu Joe meninggal dunia karena penyakit jantung. Namun, dari sinilah perjalanan waktu dimulai: Sore berusaha kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir suaminya agar tidak meninggal.
Namun, upaya itu tidak menghasilkan perubahan di “timeline utama”. Sebaliknya, ia justru menciptakan
branch timeline, semacam semesta alternatif yang terbentuk setiap kali Sore kembali dan membuat keputusan berbeda. Ini mengacu pada teori multiverse ala "Avengers: Endgame", di mana masa lalu yang kita ubah tidak menghapus masa depan, tapi menciptakan realitas baru.
Visual aurora borealis menjadi simbol penting dalam film ini. Ketika Joe pertama kali pergi ke Kutub Utara (Arctic), aurora berwarna hijau, menandakan waktu masih berjalan normal. Namun, di akhir film, aurora berubah menjadi merah, melambangkan amarah waktu dan batas maksimal yang bisa dilanggar oleh Sore. Setiap kali aurora merah muncul, itu adalah “peringatan” bahwa waktu telah terganggu dan Sore berada di ambang bahaya, baik secara fisik maupun eksistensial.
Sore berulang kali mencoba menyelamatkan Joe dengan berbagai cara, namun hasilnya nihil. Ia menciptakan banyak timeline cabang yang semakin kacau dan tidak stabil. Pada satu titik, ia bahkan terjebak dalam time loop, seperti Loki dalam serial "Loki" Season 2. Sore mulai mengalami time slipping, di mana dirinya terlempar ke luar arus waktu dan kehilangan pijakan dalam kenyataan.
Setiap upaya mengubah takdir justru memperburuk keadaan. Ia mulai mimisan, tubuhnya melemah, dan eksistensinya menjadi tidak stabil. Di sinilah film mulai bergerak ke arah lebih metafisik, waktu bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh kehendak manusia, sekuat dan setulus apa pun niatnya.
Puncak dari perjalanannya adalah ketika ia menyadari bahwa perubahan sejati hanya bisa datang dari dalam diri Joe, bukan dari manipulasi waktu. Di titik ini, Sore menyerah, ikhlas, dan berhenti melawan arus. Dan ketika Joe akhirnya memilih merubah gaya hidupnya sendiri berhenti merokok dan minum-minuman keras, sebuah timeline alternatif ideal* tercipta. Dalam realitas ini, mereka bertemu bukan di pernikahan kakak Joe, tapi di pameran fotografi. Mereka menikah dan hidup bahagia tanpa tragedi.
Namun, ending yang manis ini bukan terjadi di timeline utama. Di main timeline, Joe tetap meninggal 8 tahun setelah menikah. Kebahagiaan yang kita lihat di akhir film adalah hasil dari cabang semesta baru, di mana Sore dan Joe bisa bersatu karena keduanya memilih untuk berubah dan menerima.***


