INFOTREN.ID - Di bawah langit Jakarta yang mendung, ribuan kader Nahdlatul Ulama berdiri berbaris. Seragam batik, sarung, dan sorban berkibar di Jalan Kapten Tendean, tepat di depan kantor Trans7.

Mereka tidak datang dengan amarah semata. Mereka membawa luka yang mengakar dari pesantren yang sudah berdiri 115 tahun lalu: Pondok Pesantren Lirboyo.

Tayangan program Xpose Uncensored dinilai bukan hanya “menyudutkan,” tapi “menghina” martabat pesantren, kiai, dan para santri yang menjadi tulang punggung pendidikan Islam di Indonesia.

“Lirboyo bukan cuma bangunan, ia warisan. Kami tidak diam saat kehormatan kami diinjak,” ujar salah satu orator.

Poster dan spanduk terbentang: “Etika Jurnalistik Adalah Cermin Kehormatan.” “Boikot Trans7, Boikot CT Corp!”  Mereka tak hanya membawa suara, tapi sejarah. 

iklan sidebar-1

Sejarah Singkat Lirboyo

Didirikan pada 1910 oleh KH Abdul Karim, Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, bukan hanya tempat belajar. Ia adalah lembaga pencetak ulama, pemimpin umat, hingga tokoh nasional.

Dari metode sorogan dan bandongan, hingga kini mengelola ribuan santri dari seluruh penjuru Nusantara, Lirboyo telah berdiri kokoh selama 115 tahun.

Tayangan Xpose Uncensored yang menyebut pesantren dalam konteks kriminal, dinilai sangat melukai nilai, sejarah, dan marwah pesantren.