INFOTREN.ID - Ketegangan diplomatik yang tidak biasa kembali mencuat ke permukaan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara lugas mendeklarasikan bahwa "perang ini sudah berakhir" di Jalur Gaza, sebuah klaim yang dengan cepat direspons secara hati-hati oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang bersikeras bahwa tujuan perang belum sepenuhnya tercapai.

Kontras tajam dalam retorika ini menggarisbawahi kompleksitas politik dan perbedaan tujuan akhir antara sekutu terdekat tersebut, bahkan di tengah kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera yang krusial.

Presiden Trump, yang dilaporkan telah mengerahkan "tekanan maksimum" terhadap Israel selama proses negosiasi, mengumumkan keberhasilan diplomatik ini di tengah kesibukan internasional untuk mengimplementasikan rencana damai 20 poin yang diprakarsai AS.

Dalam pernyataan publiknya, Trump menyebutkan bahwa kesepakatan yang mencakup gencatan senjata, pembebasan semua sandera yang tersisa, dan penarikan parsial pasukan Israel ke garis yang disepakati adalah penanda berakhirnya konflik berlarut-larut tersebut.

Bagi Trump, kesepakatan ini adalah kemenangan besar di panggung global, sebuah pencapaian yang membuka jalan menuju rekonstruksi Gaza dan stabilitas regional yang lebih luas.

iklan sidebar-1

"Perang ini sudah berakhir," katanya dengan penuh keyakinan, menekankan bahwa semua pihak sudah "lelah" dengan konflik yang telah berlangsung selama dua tahun dan memakan korban jiwa puluhan ribu.

Meskipun Kabinet Israel pada akhirnya menyetujui "garis besar" kesepakatan fase pertama tersebut, Perdana Menteri Netanyahu dan lingkaran keamanannya mengambil posisi yang jauh lebih berhati-hati.

Netanyahu tidak mengeluarkan pernyataan yang secara eksplisit mengamini berakhirnya perang. Sebaliknya, fokusnya tetap pada pencapaian tujuan militer yang belum tuntas.

Netanyahu berulang kali menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum kekuatan militer dan pemerintahan Hamas di Gaza dihancurkan sepenuhnya, dan semua sandera telah dikembalikan. Bagi sang Perdana Menteri, kesepakatan gencatan senjata saat ini adalah taktik untuk mengamankan sandera, bukan deklarasi kemenangan akhir.