INFOTREN.ID - Rencana pembangunan 100 unit gudang beras oleh Perum Bulog dengan anggaran mencapai Rp5 triliun bukan sekadar proyek infrastruktur biasa.
Ini adalah simbol ambisi besar pemerintah dalam menata ulang sistem ketahanan pangan nasional di tengah fluktuasi harga dan ancaman krisis global.
Seperti disampaikan oleh Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman melalui siaran pers (8/11), “Bulog akan membangun gudang nilainya Rp5 triliun dan gudangnya 100. Januari 2026 kita start, kita percepat. Mudah-mudahan semester kedua 2026 bisa operasional.”
Proyek ini, menurut pemerintah, akan menjadi tulang punggung penyimpanan cadangan beras pemerintah (CBP) yang kini melonjak tajam menembus 3,92 juta ton pada awal November 2025, level tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Stok Melimpah, Kapasitas Menyempit
Peningkatan cadangan beras hingga hampir 4 juta ton tentu menggembirakan. Namun, angka besar ini juga menimbulkan pertanyaan penting: di mana semua beras ini akan disimpan dengan aman dan efisien?
Selama lima tahun terakhir, stok akhir tahun CBP selalu berada di bawah dua juta ton 0,8 juta ton pada 2021, 0,3 juta ton pada 2022, 0,8 juta ton pada 2023, dan naik menjadi 1,8 juta ton pada 2024.
Dengan lonjakan tajam di 2025, wajar bila pemerintah merasa perlu memperluas kapasitas penyimpanan.
Namun, proyek gudang Rp5 triliun ini juga berpotensi menimbulkan beban baru bila tidak dikelola dengan efisien.


