INFOTREN.ID - Di tengah hiruk-pikuk kota-kota kuno Eropa, di mana angin sepoi membawa bisik sejarah ribuan tahun, terjadi sebuah pertemuan yang seperti lukisan hidup dari kanvas takdir.
Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Zulfikar Ahmad Tawalla, tokoh Muhammadiyah yang dikenal dengan semangatnya yang tak kenal lelah, bertemu kembali dengan sahabat lama, Nur Ihsan, seorang dosen arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang kini menapaki karir gemilang di negeri orang.
Kisah inspiratif ini, lahir dari reuni tak terduga, menggugah hati untuk merenung: bagaimana ikatan persahabatan dan pencarian ilmu bisa menyala seperti obor di kegelapan, memotivasi kita semua untuk terus melangkah tanpa henti.
Dari Kampung ke Panggung Dunia
Bayangkan dua pemuda dari tanah Indonesia yang sarat nilai Muhammadiyah, tumbuh di bawah naungan dakwah dan pendidikan yang menekankan akal sehat serta amal shaleh.
Zulfikar, dengan latar belakangnya sebagai aktivis Muhammadiyah, memulai perjalanan politiknya dari akar rumput, naik ke posisi Wakil Menteri yang menangani urusan keagamaan.
Sementara Nur Ihsan, sahabat lamanya, memilih jalan akademik yang mendalam, menyelami rahasia bumi melalui lensa arkeologi di Unhas Makassar, yang kini tengah menempuh studi doktoral di University of Antwerp, Belgia, pada jurusan Heritage Studies.
Pertemuan mereka di Eropa, tepatnya di Bukares, Rumania, Ahad, 28 September 2025, bukan sekadar kebetulan belaka.
Ini adalah buah dari benih persahabatan yang ditanam puluhan tahun lalu, saat keduanya masih berjuang merintis mimpi di tengah keterbatasan.


