INFOTREN.ID - Bayangkan seorang siswa di kantin sekolah, menu terhidang tampak normal: nasi putih hangat, lauk dan sayur yang tampak segar, piring warna-warni tersusun rapi.

Namun, di balik penampilan itu, mungkin tersembunyi bakteri patogen yang tak tampak, tak tercium, tak berasa dan kelak bisa menyebabkan keracunan.

Dalam situasi seperti ini, siapa yang harus menanggung beban deteksinya? Prof. Sri Raharjo, Guru Besar UGM, Fakultas Teknologi Pertanian, menegaskan bahwa tanggung jawab mendeteksi potensi beracun dari Makan Bergizi Gratis (MBG) tak boleh dibebankan ke siswa.

Latar dan Realitas Kasus MBG

Kekhawatiran akan keracunan akibat MBG terus memuncak, terutama seiring semakin sering berita siswa mengalami gejala keracunan massal yang terjadi di berbagai sekolah.

iklan sidebar-1

Meski pemerintah menyebut angka keracunan MBG relatif kecil, berkisar 0,00017 menurut Presiden Prabowo Subianto, namun fakta bahwa kasus tetap muncul menunjukkan perlunya langkah pengamanan lebih sistemik.

Dilansir dari laman resmi UGM yang diakses pada Sabtu, 4 Oktober 2025, Prof. Sri Raharjo menyebut bahwa kemampuan sensorik (indera mencium, melihat, merasakan) yang dimiliki siswa sangat terbatas dan tidak cukup untuk mendeteksi kontaminasi yang tak menunjukkan gejala visual maupun aroma. 

Mengapa Deteksi Harus Dikelola Sistem, Bukan Individu Siswa?

1. Indera manusia terbatas, tak bisa jadi “detektor pasti”