INFOTREN.ID - Pengumuman beroperasinya kereta khusus petani dan pedagang mulai 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000 langsung menarik tepuk tangan publik.
Pihak KAI (Kereta Api Indonesia) menjanjikan layanan murah, rute khusus, dan kapasitas 73 tempat duduk per keberangkatan.
Di permukaan, program ini terlihat sangat pro-rakyat. Namun semakin disorot, semakin tampak bahwa ada banyak hal yang tidak diucapkan secara terang-terangan.
1. Tarif Rp3.000: Angka Simbolis yang Tidak Masuk Akal Secara Ekonomi
Biaya operasional kereta mustahil ditutupi dengan tarif Rp3.000. Artinya layanan ini 100 persen bertumpu pada subsidi negara.
Pertanyaannya: Apakah subsidi ini benar-benar tepat sasaran, atau hanya menjadi cara “menyentuh hati rakyat” menjelang agenda politik tertentu?
Jika subsidi suatu hari dipangkas, program langsung lumpuh. Ini membuat petani dan pedagang berada pada ketergantungan yang rapuh.
Solusi jangka panjang seharusnya membangun kemandirian distribusi, bukan ketergantungan.


