INFOTREN.ID - Kamis, 9 Oktober 2025, menjadi hari yang sunyi di kampus Ganesha Bandung.

Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan duka mendalam atas berpulangnya “Guru Besar dari Kelompok Keahlian Genetika dan Bioteknologi Molekuler, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Prof. Sony Suhandono, M.Sc., Ph.D.” 

Bagi banyak orang, kepergian sosok intelektual tak sekadar kehilangan pribadi, melainkan kehilangan mercusuar pemikiran, inspirasi, titisan semangat membangun generasi baru.

Dalam kesempatan ini, kita akan menapaki sosoknya dari kiprah akademis hingga jejak kemanusiaan, lalu mengajak pembaca merenung: apa yang bisa kita wariskan agar hidup tak sekadar berlalu.

Latar Belakang dan Karier Akademis: Asal-usul dan Pendidikan

iklan sidebar-1

Dilansir dari laman resmi ITB (11/10/2025), Prof. Sony Suhandono lahir di Jakarta, 30 September 1961.

Ia menamatkan pendidikan sarjana di ITB pada tahun 1987, lalu melanjutkan Magister di La Trobe University, Australia, dan meraih gelar Ph.D. dari University of Newcastle, Inggris. 

Jejak disiplin akademisnya membentang luas: genetika molekuler, biologi sel, rekayasa genetik, hingga bioteknologi aplikasi industri dan kesehatan.

Di antara riset terpentingnya: produksi biosurfaktan rhamnolipid lewat rekayasa Escherichia coli, eksplorasi keragaman genetik pisang Indonesia sebagai pangan fungsional dan sumber protein antiviral BanLec.