INFOTREN.ID - Di balik debur ombak Sorong dan semilir angin Papua Barat Daya, lahirlah seorang pemuda dengan impian setinggi langit yang diberi nama Darlane Litaay, yang menari bukan hanya di panggung, tapi juga di antara mimpi dan realita.
Kisahnya bukan sekadar narasi kelulusan dari universitas ternama dunia, tapi juga kisah inspiratif tentang keberanian mengejar cahaya meski jalannya gelap.
Tentang menanam akar kembali ke tanah sendiri setelah terbang jauh mengarungi benua dan luasnya samudera.
Di tengah gelombang zaman yang menuntut arah ke pusat-pusat gemerlap seperti Jakarta atau New York, Darlane memilih pulang kampung.
Ia menari bukan untuk panggung, tetapi untuk menyulut api di hati generasi muda Papua.
Dari Sorong, Langkah Kecil yang Membuka Dunia
Masa kecil Darlane tidak diwarnai fasilitas elite atau panggung mewah. Ia tumbuh di Sorong, di antara komunitas dan jalanan yang menjadi ruang kreatifnya.
Meski belajar elektro di STM, hatinya tetap terpaut pada tarian. Ia tergabung dalam komunitas street dance yang tampil di tengah panas dan hujan kota.
Pindah ke Yogyakarta membuka cakrawala pikirnya. Di sanalah ia menyadari keberadaan kampus seni seperti ISI Yogyakarta sebagai tempat ia akhirnya kuliah sambil tetap menempuh studi teknik.


