INFOTREN.ID - Kasus keracunan MBG terus berulang; sekolah menuntut pertanggungjawaban, sementara produksi massal justru menambah risiko.

Produk makanan beku MBG (Minuman Bercampur Gula) semula hadir sebagai kudapan ringan yang menyenangkan anak-anak.

Namun, alih-alih membawa kegembiraan, kasus keracunan berulang justru menorehkan luka di ruang-ruang kelas.

Kepala sekolah pun terpaksa berdiri di garda depan, menuntut jawaban atas peristiwa yang tak seharusnya terjadi.

Dalam laporan MSN, seorang kepala sekolah menegaskan, “Kami hanya ingin ada kejelasan dan tanggung jawab. Anak-anak kami bukanlah korban percobaan.” Namun, harapan itu runtuh ketika jawaban pihak terkait dianggap mengecewakan.

iklan sidebar-1

Benang Kusut Pertanggungjawaban

Alih-alih memberikan kejelasan, sikap yang muncul justru terasa setengah hati. Pihak sekolah kecewa karena pertanggungjawaban perusahaan maupun otoritas terkait tak sebanding dengan dampak yang dialami siswa.

Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan publik: jika sekolah sebagai garda terdepan perlindungan anak-anak tidak mendapat jawaban memadai, lalu siapa yang bisa menjamin keamanan pangan anak bangsa?

Sementara itu, Kompas mencatat peringatan penting dari Dinas Kesehatan Kulon Progo: “Produksi dalam skala besar justru meningkatkan risiko kontaminasi. Karena itu, pengawasan harus diperketat.”