Infotren.id - Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan tren "S Line", sebuah fenomena yang lahir dari drama Korea terbaru berjudul "S Line". Dalam dunia fiksi drama tersebut, muncul garis merah misterius di atas kepala seseorang setelah mereka melakukan hubungan intim.
Namun, hanya orang tertentu yang bisa melihat garis "S Line" tersebut, entah melalui kacamata khusus atau kemampuan alami. Premis ini kemudian diangkat secara kreatif dan simbolik ke dunia nyata oleh para pengguna media sosial, terutama anak muda.
Yang mengkhawatirkan, tren S Line ini malah dipelintir menjadi ajang "pamer dosa". Banyak warganet mulai membuat konten seolah-olah mereka juga memiliki “garis merah” atau secara tidak langsung mengakui telah melakukan tindakan asusila. Semakin banyak garis merah yang ditampilkan, makin dianggap keren dan menggoda rasa penasaran publik.
Asal-Usul S Line dari Dunia Fiksi
Drama "S Line" sendiri merupakan tayangan bergenre thriller-fantasi yang tayang pada Juli 2025. Disutradarai oleh Aenjuang dan diadaptasi dari webtoon populer karya Kakomabi, drama ini dibintangi oleh Arin sebagai Shin Hyun Heup, siswi SMA yang memiliki kemampuan khusus melihat garis merah di atas kepala seseorang.
Ia bekerja sama dengan detektif Hanji Wuk (diperankan oleh Li Suuk) untuk menyelidiki kasus-kasus kematian misterius. Yang membuat drama ini makin menarik adalah karakter guru bernama Lee Gu Jin yang justru tak memiliki garis merah sama sekali—mengundang kecurigaan semua pihak.
Salah satu adegan paling viral dari drama ini memperlihatkan Hanji Wuk dikelilingi banyak garis merah, hingga dijuluki netizen sebagai "Merak Berdosa". Adegan itu memicu gelombang meme, filter, dan tantangan di media sosial, hingga akhirnya terbentuklah tren "S Line".
Fenomena ini menimbulkan kegelisahan tersendiri. Dalam budaya yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama, tren ini dianggap sebagai bentuk normalisasi maksiat. Banyak anak muda seolah menjadikan pengakuan dosa sebagai ajang flexing atau bentuk keberanian.
Padahal, pengakuan lewat konten "S Line" seperti itu bukan hanya merusak citra pribadi, tapi juga bisa menyesatkan generasi yang lebih muda.***


