INFOTREN.ID - Di jantung Kota Semarang, tepatnya di kawasan industri Pelabuhan Tanjung Emas, mimpi para buruh terendam banjir. Tanggul yang jebol pada Jumat, 9 Januari 2026, bukan hanya melumpuhkan aktivitas industri, tetapi juga menghancurkan harapan para pekerja harian yang mengais rezeki di sana.
Sumini dan Faruq: Dua dari Sekian Banyak Korban
Sumini (60), seorang buruh asal Grobogan, menjadi salah satu potret buram dampak jebolnya tanggul. Perjuangannya untuk sampai ke tempat kerja berujung sia-sia. Banjir setinggi 60 sentimeter menghalangi langkahnya. "Saya berangkat dari rumah belum tahu banjir. Rumah saya jauh, di Gubuk," ujarnya dengan nada lesu dilansir dari Kompas.com (9/1).
Senada dengan Sumini, Faruq, buruh asal Bangetayu, juga merasakan dampak yang sama. Ia menyebutkan bahwa banjir sudah mulai terjadi sejak dini hari. "Setengah satu malam barusan sudah segini-segini. Memang sering banjir kalau hujan deras," katanya.
Ironi di Tengah Bencana: Diliburkan, Gaji Tetap Dipangkas
Ironisnya, meski diliburkan akibat banjir, para buruh tetap harus menerima pil pahit berupa potongan gaji. Faruq menjelaskan, "Dampaknya libur tapi potong gaji." Kondisi ini tentu menambah beban hidup mereka yang sudah berat.
Ancaman Kesehatan Mengintai
Selain masalah ekonomi, banjir juga menimbulkan risiko kesehatan bagi para pekerja. Air banjir yang kotor kerap menyebabkan gatal-gatal. "Menyulitkan sekali karena saya harus bawa celana, sering gatal-gatal juga airnya kotor," keluh Faruq.

Sumini (60) justru gagal masuk kerja setelah tiba di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, karena terjebak banjir. (Foto KOMPAS.COM/Muchamad Dafi Yusuf)


