Infotren - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Ancaman ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas energi internasional.

Pemerintah Amerika Serikat merespons dengan mendesak China agar turut mengambil peran dalam meredakan krisis. Washington menilai Beijing memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan strategis Iran.

Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi hampir 20 persen ekspor minyak dunia setiap harinya. Jika ditutup, dampaknya akan sangat dirasakan oleh negara-negara konsumen energi, termasuk China dan Eropa.

Iran menyebut langkah ini sebagai bentuk peringatan terhadap intervensi asing di wilayahnya. Namun, sejumlah analis menilai pernyataan itu sebagai strategi tekanan terhadap sanksi yang dijatuhkan AS dan sekutunya.

Gedung Putih menyatakan pentingnya kolaborasi global dalam menjaga keamanan jalur perdagangan energi. China diminta menggunakan hubungan diplomatiknya dengan Teheran untuk mencegah eskalasi konflik.

iklan sidebar-1

Sementara itu, pasar minyak mulai menunjukkan lonjakan harga akibat ketidakpastian geopolitik ini. Investor khawatir terhadap kemungkinan gangguan suplai jangka panjang jika ketegangan tidak segera diredam.

Pihak Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan AS tersebut. Namun, para pengamat menilai posisi China akan sangat menentukan arah negosiasi dalam beberapa hari ke depan.