INFOTREN.ID - Indonesia mencatat sejarah baru dengan menjadi negara kedua di dunia yang mengadopsi Women Entrepreneurs (WE) Finance Code. Inisiatif global ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan akses keuangan yang selama ini menghambat wirausaha perempuan. Komitmen ini diumumkan oleh Menteri Keuangan RI dalam pertemuan tahunan World Bank Group-IMF 2023 yang berlangsung di Marrakesh, Maroko, didukung oleh Asian Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IsDB).

Dipimpin oleh Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, dan KNEKS, pelaksanaan WE Finance Code telah melibatkan serangkaian diskusi mendalam dengan lembaga keuangan dan asosiasi sejak Juni 2024. Pada 17 Desember 2024, sebelas lembaga keuangan, fintech, dan asosiasi, termasuk Bank Syariah Indonesia, PNM, dan Aisyiah Muhammadiyah, secara resmi menandatangani komitmen Tahap 1.

"WE Finance Code adalah bukti kolaborasi global untuk memberdayakan perempuan melalui akses pembiayaan," ungkap Mr. Yerzhan Jalmukhanov dari IsDB, dalam keterangan resminya, Selasa (22/7/2025).

Heru Wibowo dari Kemenkeu menambahkan, "95% penerima kredit mikro APRN (Rp10 Triliun) adalah perempuan, sementara 49% penerima KUR juga usaha milik perempuan." Ia menjelaskan bahwa dengan Perpres Kewirausahaan yang sedang disusun, definisi usaha perempuan akan distandardisasi untuk memudahkan akses pendanaan.

Tiga pilar utama dari WE Finance Code meliputi kebijakan, data, dan inovasi, dengan target untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan di sektor usaha. Kristonia Lockhart dari IsDB menegaskan, "Indonesia bisa jadi contoh global keuangan inklusif berbasis syariah jika kolaborasi ini berjalan baik."

iklan sidebar-1

Dalam rangka mendukung implementasi WE Finance Code, Tim Nasional Akselerasi telah dibentuk, terdiri dari Dewan Pengarah dan tiga kelompok kerja yang fokus pada regulasi, data, dan inovasi. Piagam Nasional juga telah diluncurkan sebagai panduan pelaksanaan, diikuti dengan penandatanganan komitmen tahap kedua oleh KemenPPPA, Bappenas, serta fintech syariah seperti Dana Syariah dan Qazwa.

Siti Azizah dari KemenUMKM menekankan, "Tantangan terbesar UMKM perempuan adalah akses keuangan dan pendampingan." Melalui WE Finance Code, diharapkan skema pembiayaan dengan bunga rendah dan program pendampingan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha perempuan.

Ke depan, ADB dan IsDB berkomitmen untuk mendorong lebih banyak lembaga bergabung dalam WE Finance Code. Mr. Renadi Budiman dari ADB optimis, "Jika berhasil, Indonesia tak hanya akan meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi model bagi negara berkembang lainnya."