INFOTREN.ID  - Di banyak tempat, pertemuan dimulai dengan jabat tangan atau sekadar anggukan. Di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, perjumpaan memiliki bahasa yang berbeda. Di sana, dua orang saling mendekat, menempelkan hidung, dan bertukar napas dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai Henge’do.

Bagi masyarakat Suku Sabu, Henge’do bukan sekadar gestur salam. Ia adalah pernyataan sikap: tentang penghormatan, keterbukaan, dan pengakuan atas hubungan kemanusiaan yang setara. Tradisi ini hidup dalam keseharian warga, dari pertemuan keluarga hingga upacara adat, dan menjadi penanda kuat identitas sosial masyarakat Sabu.

Secara harfiah, Henge’do dilakukan dengan cara menempelkan hidung satu sama lain. Mata terbuka, mulut tertutup, tangan saling menyentuh bahu. Tidak ada kecanggungan, tidak ada tawa berlebihan. Yang hadir adalah kesadaran bahwa pertemuan itu bermakna.

Dalam tradisi ini, orang yang lebih muda mencium hidung orang yang lebih tua sebagai tanda hormat. Namun, Henge’do tidak mengenal sekat sosial. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, warga lokal maupun pendatang, semuanya dapat melakukannya. Yang penting bukan siapa yang ditemui, melainkan bagaimana seseorang memposisikan diri dalam relasi persaudaraan.

Masyarakat Sabu memaknai Henge’do sebagai bentuk komunikasi non-verbal yang menegaskan keakraban dan keharmonisan. Tradisi ini dipercaya berakar dari pengamatan alam—khususnya perilaku semut merah yang saling bersentuhan saat berpapasan—yang kemudian dimaknai sebagai simbol persahabatan dan kebersamaan.

iklan sidebar-1

Di tengah kehidupan yang keras di wilayah kering NTT, nilai kebersamaan menjadi fondasi penting. Henge’do hadir sebagai perekat sosial. Ia mengajarkan bahwa hidup dijalani bersama, dengan saling mengenali dan menghormati ruang satu sama lain.

Menariknya, dalam pandangan masyarakat Sabu, seseorang yang enggan melakukan Henge’do dapat dianggap menjaga jarak secara sosial. Bukan karena pelanggaran aturan, melainkan karena sikap itu dibaca sebagai tanda keengganan membangun hubungan. Dalam konteks ini, Henge’do bukan paksaan, tetapi undangan untuk hadir secara utuh dalam komunitas.

Bagi pendatang yang pertama kali menyaksikan tradisi cium hidung ini, Henge’do kerap memancing rasa ingin tahu. Namun masyarakat setempat menegaskan satu hal: tradisi ini sama sekali tidak mengandung makna seksual. Ia adalah bahasa budaya, bukan ekspresi hasrat. Kesalahpahaman sering muncul ketika tradisi lokal dibaca dengan kacamata luar yang berbeda konteks.

Di era modern, ketika jarak sosial semakin lebar dan perjumpaan sering tergantikan oleh layar, Henge’do justru terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa pertemuan manusia tidak selalu membutuhkan kata-kata. Ada kalanya, rasa hormat dan persaudaraan cukup disampaikan melalui gestur sederhana yang sarat makna.