INFOTREN.ID - Pada hari Sabtu, 11 Oktober 2025, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) dilaporkan melancarkan serangkaian serangan udara intensif di sepanjang Jalan Musaylih di Lebanon Selatan, yang secara spesifik menargetkan dan menghancurkan sejumlah gudang penyimpanan alat berat dan ekskavator. 

Serangan ini memicu peningkatan ketegangan di wilayah perbatasan, yang terjadi tak lama setelah kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Penghancuran lebih dari 300 kendaraan teknik dan mesin berat kerusakan parah pada jaringan listrik nasional (memutus saluran transmisi 220 kV Zahrani–Tyre). 

Satu warga negara Suriah tewas, tujuh lainnya terluka (termasuk enam warga Lebanon dan satu warga Suriah). Menargetkan lokasi yang digunakan oleh Hizbullah untuk menyimpan mesin yang akan digunakan untuk membangun kembali infrastruktur teror di Lebanon selatan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Juru Bicara Parlemen Nabih Berri mengutuk serangan tersebut sebagai "tindakan agresi terang-terangan" terhadap fasilitas sipil dan infrastruktur ekonomi. Lebanon berencana mengajukan keluhan ke Dewan Keamanan PBB. 

iklan sidebar-1

IDF menyatakan bahwa serangan udara tersebut menargetkan lokasi yang digunakan oleh Hizbullah untuk menyimpan mesin berat yang bertujuan untuk "membangun kembali infrastruktur terornya di Lebanon selatan." 

Militer Israel menuduh Hizbullah beroperasi dengan cara yang "menimbulkan ancaman bagi warga sipil Lebanon dan menggunakannya sebagai perisai manusia," dan mengklaim bahwa penggunaan peralatan berat oleh kelompok yang didukung Iran tersebut melanggar perjanjian gencatan senjata yang dicapai November lalu.

Pemerintah Lebanon, melalui Presiden Joseph Aoun, mengutuk keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai agresi yang menargetkan "fasilitas sipil dan komersial." 

Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi satu korban tewas seorang warga Suriah dan tujuh korban luka, termasuk warga sipil yang berada di sekitar lokasi atau kendaraan yang melintas.