Infotren.id - Dalam beberapa bulan pertama tahun 2025, Indonesia dihadapkan pada gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan penutupan pabrik dari berbagai sektor industri. Beberapa perusahaan besar, seperti PT Sritex, PT Danbi International, dan Yamaha Musik Indonesia, terpaksa menghentikan operasionalnya, meninggalkan ribuan pekerja dalam ketidakpastian. 

Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan besar dikalangan masyarakat, apa yang sebenarnya menyebabkan banyaknya PHK dan pabrik yang tutup di Indonesia akhir-akhir ini? 

Fenomena PHK dan penutupan pabrik di Indonesia diduga disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu adanya perlambatan ekonomi global yang berdampak langsung pada industri di Indonesia, terutama sektor manufaktur yang bergantung pada ekspor. Permintaan global yang menurun menyebabkan perusahaan kesulitan menjual produk mereka, sehingga banyak yang memangkas biaya dengan melakukan PHK atau bahkan menutup usahanya.  

Selain itu, Inflasi dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok juga dapat menekan daya beli masyarakat. Akibatnya, produk-produk industri, terutama dari sektor tekstil, elektronik, dan otomotif, mengalami penurunan permintaan. Dengan berkurangnya permintaan, perusahaan kehilangan pendapatan dan akhirnya harus merampingkan tenaga kerja atau gulung tikar.  

Selain itu, maraknya produk impor, terutama dari China, semakin mempersempit pasar bagi industri dalam negeri. Banyak produk lokal kalah bersaing dari segi harga dan kualitas, menyebabkan penurunan produksi dan berujung pada PHK.  

iklan sidebar-1

Perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi salah satu faktor dapat yang menyebabkan fenomena ini, banyak masyarakat yang beralih ke digital dan otomasi membuat beberapa industri mengalami penurunan relevansi.Industri konvensional yang gagal beradaptasi dengan tren ini akhirnya kesulitan bertahan.  

PHK dalam jumlah besar ini tentu menimbulkan masalah sosial yang serius, terutama terkait dengan kesejahteraan pekerja yang kehilangan sumber pendapatan.***