INFOTREN.ID – Industri film Indonesia tengah menjadi sorotan tajam. Kritik pedas datang dari berbagai pihak, terutama terkait dominasi genre horor yang dianggap monoton dan mematikan kreativitas.
Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai NasDem, Yoyok Riyo Sudibyo, bahkan sampai berujar, "Jangan itu-itu saja. Horor, horor terus. Kan konyol nanti itu lama-lama. Hentikan itu. Kasihan teman-teman yang bikin film kecil dari daerah, susah masuk."
Pernyataan ini mencerminkan kegelisahan banyak sineas daerah yang kesulitan menembus ketatnya persaingan di layar bioskop.
Accor Umumkan Penandatanganan Mercure Cibadak Sukabumi Resort di Hamparan Hijau yang Asri
Mereka merasa terpinggirkan oleh film-film horor yang mendominasi pasar dan diproduksi oleh rumah produksi (PH) besar.
Fakta Ketimpangan yang Mencengangkan
Ketimpangan dalam industri film nasional memang nyata. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, membeberkan data yang cukup mencengangkan.
Menurutnya, 60 persen film nasional hanya diputar di bioskop besar dan berasal dari dua hingga tiga PH saja.
"Kondisi ini menunjukkan adanya penguasaan pasar oleh kelompok tertentu," tegasnya.
Lebih lanjut, Lamhot menyoroti aturan dalam UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang memungkinkan satu pihak menjadi produser, importir, sekaligus pemilik jaringan bioskop.


