INFOTREN.ID - Ada pemandangan yang belakangan makin sering terlihat di Jalan Bypass Ngurah Rai, Tuban, Bali. Sejumlah kendaraan mendadak menepi. Pengemudi turun, penumpang membuka kamera, lalu semua mata tertuju ke langit. Beberapa detik kemudian, pesawat melintas rendah, nyaris tepat di atas kepala, sebelum mendarat di Bandara Ngurah Rai.
Momen itu memang mengesankan. Suara mesin yang menggelegar dan ukuran pesawat yang terasa dekat membuat siapa pun tergoda mengabadikannya. Namun di balik video yang tampak keren di media sosial, tersimpan risiko keselamatan yang tidak bisa dianggap sepele.
Jalur Vital, Bukan Tempat Berhenti
Bypass Ngurah Rai bukan jalan biasa. Jalur ini adalah akses utama yang menghubungkan bandara dengan kawasan wisata seperti Kuta, Seminyak, hingga Nusa Dua. Setiap hari, ribuan kendaraan melintas di sini: mobil wisatawan, bus hotel, sepeda motor pekerja, hingga kendaraan logistik.
Itulah sebabnya rambu “dilarang berhenti” terpasang jelas di sepanjang jalur tersebut. Ketika kendaraan berhenti mendadak demi konten, arus lalu lintas langsung terganggu. Pengendara lain terpaksa mengerem atau menghindar secara tiba-tiba, membuka peluang kecelakaan.
Seorang pengamat pariwisata Bali, Gregorius Adrianus Sinantong, menilai kebiasaan ini berbahaya karena terjadi di jalur yang sangat krusial.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
“Ini bukan jalan kecil atau jalan lingkungan. Ini jalur utama bandara dan pintu masuk jutaan wisatawan. Ketika orang berhenti mendadak hanya untuk merekam pesawat, risikonya bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk keluarga di mobil belakang, pengendara motor, dan pekerja yang setiap hari lewat sini,” ujarnya.
Risiko Nyata di Jalan Padat
Menurut Gregorius, persoalan ini bukan sekadar pelanggaran rambu lalu lintas. Dampaknya bisa jauh lebih luas. Kendaraan yang berhenti mendadak meningkatkan risiko tabrakan dari belakang, memicu manuver berbahaya, serta menyebabkan kemacetan singkat yang berulang.


