INFOTREN.ID - Indonesia termasuk negara dengan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia dan memiliki posisi strategis sebagai anggota G20. Namun delegasi Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim COP30-UNFCCC di Belem, Brasil, yang berlangsung 10-21 November lalu dinilai tampil pasif. Indonesia tidak menunjukkan peran diplomasi yang kuat, serta gagal mendorong komitmen ambisius untuk keluar dari energi fosil dan menghentikan deforestasi.

Country Director Greenpeace untuk Indonesia, Leonard Simanjuntak mengatakan, delegasi Indonesia bahkan mengingkari amanat konstitusi. Alasannya, dalam Pembukaan UUD 1945, disebutkan bahwa Indonesia harus ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Krisis iklim yang saat ini terjadi juga mempengaruhi kondisi dunia. 

Namun di Belem, Indonesia yang seharusnya bisa menjadi pemain utama, sayangnya memilih untuk menjadi penonton,” ucap Leonard pada konferensi pers Refleksi dari COP30: Langkah Lanjut untuk Aksi Iklim yang Berkeadilan di Jakarta, Selasa, 25 November 2025, dikutip dari siaran pers JustCOP.

Selain Leonard, hadir Direktur Eksekutif Auriga Nusantara Timer Manurung, Direktur Eksekutif MADANI Berkelanjutan Nadia Hadad, Climate Change and Energy Lead World Wildlife Fund (WWF) Indonesia Ari Mochamad, Deputi I Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Urusan Organisasi Eustobio Rero Renggi, Supervisor Divisi Advokasi Hukum Rakyat Perkumpulan HuMa Bimantara Adjie Wardhana, Direktur Socio-Bioeconomy CELIOS Fiorentina Refani, dan Ayub Paa mewakili Yayasan Pusaka Bentala Rakyat. 

Turut hadir secara daring, Koordinator Sekretariat Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) yang juga Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL Torry Kuswardono dari Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

iklan sidebar-1

Direktur Eksekutif Auriga Nusantara Timer Manurung menambahkan, Indonesia hanya mengekor dari belakang dan tidak menggunakan kesempatan untuk bisa lebih memimpin, mendukung penghentian penggunaan energi fosil dan menghentikan deforestasi. “Saya tidak melihat peran signifikan diplomasi Indonesia. Indonesia hanya di sana karena negara kita menjadi pemilik hutan tropis terbesar ketiga, bukan karena kinerja atau pun diplomasinya,” ujarnya

Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL Torry Kuswardono, mengatakan negara-negara G20 tidak menunjukan kepemimpinannya, terlebih Indonesia. “Indonesia dari dulu memang aneh. Tidak pernah mengambil kepemimpinan, namun menunggu saja dari belakang,” terangnya.

Sedangkan Ayub Paa yang mewakili Yayasan Pusaka Bentala Rakyat mengatakan pernyataan-pernyataan delegasi dalam COP30 tidak sesuai kenyataan di lapangan. Minyak dan hutan yang dibahas dalam COP adalah milik masyarakat adat, namun pembahasannya sangat minim melibatkan masyarakat adat.

Delegasi Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim COP30 dinilai tampil pasif dan gagal mendorong komitmen ambisius untuk keluar dari energi fosil dan menghentikan deforestasi.  foto: Instagram @justcop__