INFOTREN.ID - Dunia politik Amerika Serikat kembali bergetar. John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional yang pernah jadi orang kepercayaan Donald Trump, kini berdiri di hadapan hakim sebagai terdakwa.
Tak tanggung-tanggung, pria yang dikenal vokal mengkritik mantan atasannya itu didakwa atas 18 pasal serius terkait penanganan dokumen rahasia negara.
Kasus ini menjadi babak baru dalam panasnya hubungan antara tokoh-tokoh oposisi dan mantan Presiden Trump, yang kini tengah berupaya kembali merebut kursi Gedung Putih di tengah bayang-bayang kontroversi hukum.
Serahkan Diri Diam-diam, Bolton Hadapi Tuduhan Berat
Bolton resmi menyerahkan diri ke pengadilan federal Greenbelt, Maryland, pada Jumat (17/10) pagi waktu setempat.
Tanpa komentar sedikit pun kepada wartawan, ia langsung masuk ke kantor Layanan Marshals AS untuk memulai proses hukum.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Menurut laporan Reuters (17/10/2025), dakwaan mencakup delapan tuduhan pengiriman informasi pertahanan nasional dan sepuluh tuduhan penyimpanan informasi sensitif, yang seluruhnya dijerat dengan Undang-Undang Spionase AS.
“Aku menantikan pertempuran untuk membela tindakanku yang sah dan mengekspos penyalahgunaan kekuasaan (olehnya Trump),” ujar Bolton dalam pernyataan tegasnya.
Pihak kejaksaan menuduh Bolton membocorkan informasi intelijen dan dokumen sensitif kepada dua kerabatnya untuk kepentingan penulisan buku.


