INFOTREN.ID - Di balik gemerlap panggung dan sorotan lampu, ada kisah yang lebih terang dari bintang. Inilah kisah Nazril, seorang pemuda yang dulunya bergelut dengan kegelapan aksara, kini siap menaklukkan panggung istana dengan lantunan puisi di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Kisah inspiratif ini membuktikan bahwa harapan selalu ada, bahkan di titik terendah sekalipun.
Awal Mula: Terjebak dalam Labirin Aksara
Nazril, remaja berusia 16 tahun asal Kabupaten Bekasi, memiliki masa lalu yang berbeda dari teman-temannya. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, dengan orang tua yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ayahnya seorang OB di apartemen, sementara ibunya bekerja sebagai tukang cuci gosok. Namun, di balik kesederhanaan itu, Nazril menyimpan sebuah beban berat: ketidakmampuan membaca dan menulis.
"Dulu saya kesulitan membaca. Sama buat menulis itu kayak susah dihapalinnya," ungkap Nazril, mengenang masa-masa sulitnya dilansir dari Kompas.com (11/1).
Sejak SD hingga SMP, Nazril terus berjuang untuk mengejar ketertinggalannya. Namun, tanpa dukungan yang memadai, ia merasa semakin terisolasi. "Kalau di sekolah sebelumnya itu kayak susah, enggak ada lesnya, terus saya kesulitan buat baca, teman-teman saya belum tahu saya belum bisa baca," tuturnya.
Mentari Baru: Sekolah Rakyat dan Secercah Harapan
Titik balik dalam hidup Nazril datang ketika ia dipertemukan dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Pertemuan itu membuka pintu baginya untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat 13, Kota Bekasi. Di sinilah, Nazril menemukan lingkungan yang suportif dan penuh semangat.
Setelah empat bulan belajar di Sekolah Rakyat, perubahan besar mulai terlihat. "Sudah empat bulan saya belajar baca di sini, di Sekolah Rakyat. Saya sudah lumayan hampir bisa belajar membaca, menulis juga," kata Nazril dengan wajah berseri-seri.
Di asrama Sekolah Rakyat, Nazril dibantu oleh teman-temannya untuk belajar membaca. Ia juga gemar membaca komik selama jam istirahat untuk mengasah kemampuan membacanya. "Belajar pakai buku biasa, komik juga, bacanya pas istirahat, di kelas gitu. Kalau malam-malam, ada teman yang ngajarin, teman sekamar," jelasnya.


