INFOTREN.ID - Selama bertahun-tahun, Desa Adat Penglipuran dikenal sebagai salah satu wajah Bali yang paling sering difoto: jalan lurus yang bersih, deretan angkul-angkul seragam, dan hutan bambu yang seolah tak pernah terusik. Namun mulai 2026, desa ini memilih untuk tidak hanya menjadi tempat singgah, melainkan ruang hidup yang perlu dijaga bersama.
Mulai awal tahun ini, Penglipuran resmi menerapkan sistem paket kunjungan bagi wisatawan. Sebuah keputusan yang menandai perubahan cara desa memandang pariwisata—bukan lagi sekadar soal ramai atau sepi, tetapi tentang kualitas, tanggung jawab, dan keberlanjutan.
Bagi Penglipuran, kebijakan ini bukan lahir dari keinginan membatasi, melainkan menata. Arus wisata yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir membawa manfaat ekonomi, tetapi juga tantangan: tekanan terhadap lingkungan, ritme hidup warga, dan makna budaya itu sendiri.
Melalui sistem baru ini, wisatawan ditawarkan dua pilihan pengalaman.

Pilihan pertama adalah Paket Pelipur Lara 1, yang memberi akses ke kawasan inti desa, mulai dari jalan utama yang tertata rapi, rumah-rumah warga, hingga hutan bambu yang menjadi penyangga ekologis sekaligus simbol keseimbangan hidup masyarakat Penglipuran.
Untuk paket ini, desa menetapkan tarif berbeda bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
Wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp50.000 untuk dewasa dan Rp30.000 untuk anak-anak, sementara wisatawan domestik dikenakan Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak.
Sementara itu, Paket Pelipur Lara 2 ditujukan bagi wisatawan yang ingin memahami Penglipuran secara lebih utuh. Selain mengunjungi kawasan desa, pengunjung akan didampingi pemandu lokal yang menjelaskan sejarah, aturan adat, serta nilai-nilai kehidupan yang masih dijaga hingga kini.
Untuk paket ini, tarif ditetapkan Rp125.000 bagi wisatawan mancanegara dewasa dan Rp100.000 bagi anak-anak, sedangkan wisatawan domestik dikenakan Rp75.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak.


