INFOTREN.ID - Dari Sumba, Rindu Cahayani Rambu Rihi bangkit lewat prestasi literasi, OSIS, dan mimpi pendidikan di SMA Kristen Waibakul, kisah kegagalan jadi cahaya motivasi bagi generasi muda NTT.
Di bawah langit biru Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membentang luas seperti kanvas mimpi, muncul sosok remaja yang tak hanya membaca buku, tapi menjadikannya ‘sayap untuk terbang’.
Kisah inspiratif ini, lahir dari tanah Sumba Tengah, mengajak kita menyelami perjalanan Rindu Cahayani Rambu Rihi, seorang gadis belia kelas XII SMA Kristen Waibakul yang memilih menjadi cahaya, bukan bayangan, di tengah hiruk-pikuk kehidupan pelajar.
Asal dan Jiwa yang Bersinar
Bayangkan sebuah kota kecil di Pulau Sumba, di mana angin savana berbisik cerita leluhur, dan Rindu Rihi tumbuh seperti sekuntum bunga liar yang tak kenal lelah.
Lahir di Kupang pada 2 November 2008, ia dibesarkan di lingkungan yang menanamkan semangat belajar sebagai akar kehidupan.
Aktif, percaya diri, dan ceria, itulah potret Rindu, yang hobi membaca, bermain gitar, menulis, dan melukis menjadi pelangi dalam rutinitasnya.
Moto hidupnya, "Menjadi cahaya, bukan bayangan," bukan sekadar kata, melainkan denyut nadi yang mendorongnya mengajak teman sebaya mendekati dunia melalui halaman-halaman buku, membuka jendela imajinasi di tengah keterbatasan.


