INFOTREN.ID - Kisah ini bermula dari kekejaman yang membeku di Kota Sibiu, Rumania, dan berakhir dalam penangkapan sunyi di Bali, pulau yang identik dengan kedamaian. Costinel-Cosmin Zuleam (33), pria asal Rumania yang masuk dalam daftar "Red Notice" Interpol dan tergolong buronan paling dicari di Eropa, harus menyerah pada kenyataan bahwa pelariannya selama dua tahun telah usai.

Namun, yang membuat kasus ini bukan sekadar berita kriminal internasional biasa adalah lapisan kehidupan yang ia anyam selama bersembunyi: sebuah pernikahan siri dengan seorang warga negara Indonesia (WNI), yang sama sekali tidak tahu bahwa suaminya adalah pelaku penyiksaan brutal demi aset kripto.

Pelarian Sempurna: Hidup Low Profile di Balik Topeng Pernikahan

Penangkapan Zuleam pada 15 Januari 2026 oleh tim gabungan Polri dan Polda Bali mengungkap strategi pelarian yang cerdik namun penuh tipu daya. Berbeda dari bayangan buronan yang hidup dalam ketakutan, Zuleam justru menjalani hidup secara tertutup dan berusaha tidak mencolok.

Kepala Bagian Kejahatan Transnasional dan Internasional NCB-Interpol, Kombes Pol. Ricky Purnama, mengungkapkan bahwa Zuleam sengaja menjaga profil rendah. "Yang berpenghasilan itu justru pasangannya," ujar Ricky dalam konferensi pers di Polda Bali, Selasa (20/1/2026).

iklan sidebar-1

Strateginya adalah menyamar dalam norma sosial: pernikahan. Status pernikahan siri dengan seorang WNI menjadi kamuflase yang sempurna, memberikannya kedok kehidupan normal. Yang tragis, sang istri, menurut penyidik, sama sekali tidak mengetahui latar belakang hitam suaminya.

"Pasangannya tidak mengetahui bahwa statusnya dalam pelarian," tegas Ricky. Pernikahan itu bukanlah cinta, melainkan bagian dari skema survival seorang buronan.

Motif di Balik Kekejaman: Bukan Harta Fisik, tapi Aset Digital

Kejahatan yang membuat Zuleam diburu Interpol bukanlah perampokan biasa. Pada 6 November 2023, bersama dua komplotannya, ia menyusup ke rumah seorang pengusaha di Sibiu. Motif utamanya bukanlah jam tangan mewah senilai 200.000 Euro yang akhirnya mereka rampas, melainkan sesuatu yang tak kasat mata: akses ke aset kripto korban.