INFOTREN.ID - Ulang tahun ke-42 Slank di Pantai Mertasari, Sanur, Sabtu malam 27 Desember 2025, bukan sekadar perayaan panjang umur sebuah band legendaris. Di tengah gemerlap konser dan euforia penggemar, Slank memilih mengubah panggung menjadi ruang empati, solidaritas, dan kepedulian.
Di hadapan ribuan penonton, Kaka membuat keputusan yang tidak biasa. Vokalis Slank itu melelang Vespa kesayangannya, sebuah motor edisi khusus ulang tahun Slank ke-40, dengan harga pembuka Rp 75 juta. Bukan Vespa sembarangan. Motor ini telah dimodifikasi menggunakan tenaga listrik, surat-suratnya lengkap, dan menyimpan nilai sentimental tinggi bagi sang pemilik.
Namun malam itu, kenangan pribadi bukan yang utama.
“Di tengah bencana dan kesusahan yang terjadi, kita diingatkan bahwa ada saudara-saudara kita yang sedang butuh bantuan,” ujar Kaka. Baginya, konser ini bukan hanya soal hiburan, tetapi juga soal tanggung jawab sosial.
Tak berhenti di situ, Ivanka ikut melepas salah satu gitar bas andalannya untuk dilelang. Dengan nada khas Slank yang santai namun penuh makna, ia berharap hasil lelang bisa sedikit meringankan beban korban bencana di Sumatra. “Semoga apa yang kita lelang bisa jadi sesuatu yang berarti,” katanya.
Slank menegaskan bahwa seluruh hasil lelang, termasuk penjualan tiket konser, akan disalurkan untuk membantu para korban bencana alam di Pulau Sumatra. Langkah ini mempertegas posisi Slank sebagai band yang tidak pernah memisahkan musik dari nurani.
Dukungan penuh datang dari sponsor tunggal konser, Surya Group. CEO-nya, Muhammad Suryo, menekankan bahwa acara ini sejak awal memang dirancang sebagai ruang empati. “Ini bukan hanya ulang tahun Slank. Ini momentum untuk berbagi,” ujarnya, seraya memastikan seluruh keuntungan konser disalurkan untuk bantuan kemanusiaan.
Sementara itu, Bimbim, Ridho, dan Abdee masih menyimpan rapat barang-barang pribadi yang akan mereka lelang. Kerahasiaan ini justru menambah rasa penasaran, sekaligus menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu perlu diumumkan dengan gegap gempita.
Di usia 42 tahun, Slank kembali membuktikan satu hal penting: menjadi legenda bukan hanya soal bertahan lama di industri musik, tetapi tentang konsistensi sikap. Di saat banyak panggung hanya menjadi ruang selebrasi, Slank memilih menjadikannya jembatan kemanusiaan.


