Infotren.id - Kasus dugaan intoleransi kembali mencuat di Jawa Barat. Kali ini, insiden terjadi di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, setelah sekelompok warga menggeruduk dan merusak sebuah rumah yang mereka tuding sebagai tempat ibadah ilegal. Namun, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung turun tangan untuk meredam ketegangan dan meluruskan informasi yang simpang siur.
Dalam video yang diunggah di akun TikTok pribadinya pada Senin, 30 Juni 2025, Dedi Mulyadi menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Ia menemui langsung pria pemilik rumah yang menjadi korban sekaligus saksi dalam peristiwa itu. Kepada Dedi Mulyadi, pria tersebut menegaskan bahwa bangunan yang dirusak warga adalah rumah pribadi, bukan gereja, sebagaimana tuduhan yang beredar.
Rumah tersebut diketahui memang sering digunakan untuk kegiatan sosial, seperti pembinaan mental atau retret, khususnya bagi warga kurang mampu. Lokasinya yang berada di daerah sejuk dan tenang Sukabumi memang kerap dijadikan tempat berkumpul warga dari berbagai daerah, termasuk dari Minahasa, Batak, hingga Jakarta dan Tangerang.
Dalam kegiatan tersebut, tak jarang mereka menyanyikan lagu-lagu rohani atau mengadakan aktivitas keagamaan yang bersifat internal, namun hal itu diduga menjadi pemicu kesalahpahaman warga sekitar.
Selain melakukan klarifikasi di lokasi, Dedi Mulyadi juga memberikan bantuan uang pribadi untuk membantu memperbaiki rumah korban yang rusak akibat amukan massa. Tak hanya itu, ia juga memberi dukungan moral dan mengajak masyarakat sekitar untuk memahami pentingnya toleransi antar umat beragama.
"Kita akan selesaikan masalah ini secara komprehensif, dari sisi sosialnya dan hukumnya. Tidak boleh lagi ada peristiwa seperti ini. Semua orang harus saling menghormati dan menghargai," tegas Dedi saat berbicara dengan warga.
SKANDAL K3 MENGGURITA: Pengacara Noel Beberkan Bukti Transfer Duit Haram ke 'Ibu Menteri'!
Dalam pernyataannya, pria yang akrab disapa KDM itu juga menyinggung soal proses hukum terhadap warga yang diduga menjadi provokator dalam peristiwa tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus itu kepada aparat penegak hukum tanpa campur tangan pemerintah daerah.
"Biarkan hukum bekerja secara objektif, berdasarkan alat bukti. Saya tidak akan mengintervensi proses hukum, saya serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian," tegasnya.
Peristiwa ini bermula saat sekelompok warga tiba-tiba mendatangi rumah tersebut pada Jumat pekan lalu. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kayu berbentuk salib dicopot dari dinding rumah, sementara aparat keamanan termasuk TNI dan Polri sudah berjaga di lokasi. Namun, massa tetap nekat melakukan perusakan.


