INFOTREN.ID - Di zaman ketika perhatian lebih berharga daripada integritas, ketenaran bisa dibangun dari apa saja. Bahkan dari sesuatu yang seharusnya memalukan. Bonnie Blue adalah contoh paling telanjang dari fenomena itu.

Ia dikenal bukan karena karya, pemikiran, atau kontribusi sosial, melainkan karena satu klaim yang ia banggakan sendiri: tidur dengan 1.000 pria. Angka itu bukan pengakuan personal, melainkan strategi. Sebuah fondasi identitas yang sengaja dirancang untuk memancing sensasi.

Bali kemudian hadir sebagai panggung berikutnya.

Bagi Gregorius Adrianus Sinantong, pengamat pariwisata Bali sekaligus pendiri Hey Bali, apa yang dilakukan Bonnie Blue tidak memiliki bobot substansial sama sekali.

“Bonnie Blue itu sebenarnya nothing. Ia bukan figur penting, bukan tokoh dengan gagasan. Ia hanya seseorang yang membangun popularitas dari provokasi dan sensasi ekstrem, termasuk dengan bangga menjual narasi tidur dengan 1.000 pria,” ujarnya.

iklan sidebar-1

Namun persoalannya menjadi jauh lebih serius ketika provokasi itu tidak lagi berhenti pada tubuh dan sensasi pribadi, melainkan menyentuh simbol negara.

Video yang beredar luas, memperlihatkan Bonnie Blue menempatkan Bendera Merah Putih pada bagian tubuh yang tidak pantas sambil berjalan dengan gestur mengejek, menandai eskalasi yang tidak bisa lagi dianggap sekadar “konten”.

Di titik inilah persoalan berubah dari isu viral menjadi soal martabat kolektif.

Prof. Dr. Werdhi Sutisari, SH., M.H., PhD, melihat tindakan tersebut sebagai degradasi simbol negara yang serius, baik secara filosofis maupun hukum. Dalam pandangan filsafat politik, bendera negara bukanlah benda netral. Ia adalah simbol kolektif kedaulatan, identitas, dan kehormatan bangsa.