Infotren - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakui bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih lambat dibanding prediksi sebelumnya. Keterlambatan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan ekuator.

Menurut Kepala BMKG, opservasi terbaru menunjukkan anomali iklim global yang mempengaruhi pola cuaca regional. Kondisi ini menyebabkan pergeseran awal musim kemarau dari waktu yang telah diprediksi sebelumnya.

BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau akan dimulai pada Mei 2025. Namun, hingga awal Juni, sebagian besar wilayah masih mengalami hujan ringan hingga sedang.

Fenomena El Niño yang telah melemah turut berperan dalam memperpanjang musim hujan. Selain itu, adanya pengaruh dari suhu muka laut yang belum sepenuhnya normal memperkuat ketidakstabilan atmosfer.

BMKG menekankan bahwa perubahan iklim global semakin menyulitkan prediksi musiman yang akurat. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem selama masa transisi ini.

iklan sidebar-1

Pola tanam petani juga diperkirakan akan terdampak oleh keterlambatan musim kemarau. Pemerintah daerah diimbau untuk memperbarui strategi mitigasi demi menjaga ketahanan pangan.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus memperbarui informasi cuaca secara berkala melalui berbagai kanal resmi. Masyarakat disarankan untuk mengikuti perkembangan terbaru agar dapat menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca yang dinamis.