Infotren.id- Film "Pengepungan di Bukit Duri" karya Joko Anwar bukan sekadar sajian sinematik yang menggugah, melainkan juga sebuah refleksi sosial yang menohok. Dengan latar yang penuh ketegangan, film ini menggambarkan dinamika masyarakat yang sedang dilanda amarah, kehilangan arah, dan krisis kemanusiaan, sebuah kondisi yang tak ubahnya dengan apa yang terjadi pada tragedi Mei 1998.

Tragedi Mei 1998 merupakan salah satu titik kelam dalam sejarah Indonesia. Kerusuhan masif yang dipicu oleh krisis ekonomi dan ketimpangan sosial ini mengungkap wajah asli dari ketidakadilan struktural yang telah lama membara. Warga sipil menjadi korban kekerasan, perempuan etnis Tionghoa mengalami pelecehan, dan aparat negara kehilangan kendali. 

Dalam film "Pengepungan di Bukit Duri" suasana ini terasa hidup kembali, bukan dengan merekonstruksi kejadian secara literal, tetapi lewat pendekatan atmosferik yang kental dan karakter-karakter yang mewakili trauma sosial.

Karakter seperti Jeffre, yang disebut sebagai “personifikasi kebrengsekan nasional”, seolah mewakili sosok penguasa atau elite yang menjadi bagian dari rusaknya sistem. Sementara Edwin, guru idealis yang berjuang di tengah sistem pendidikan yang korup dan tidak berpihak, menggambarkan perlawanan sipil yang lahir dari nurani.

Seperti pada Mei 1998, "Pengepungan di Bukit Duri" juga mengangkat narasi tentang marjinalisasi, penghilangan paksa, dan kekerasan yang dibiarkan tumbuh dalam struktur sosial yang timpang. Kristof, Rangga, dan murid-murid lainnya adalah generasi yang terjebak di antara sistem yang represif dan ketidakmampuan untuk keluar dari lingkaran kekerasan. 

iklan sidebar-1

Tak heran jika banyak penonton yang menilai film "Pengepungan di Bukit Duri" ini terasa relevan dengan tragedi Mei 1998 yang pernah terjadi di Indonesia.***